Pages

Travel dan Introvert




Apakah kamu tipe orang yang suka travel ? atau lebih memilih menghabiskan liburan dan weekend dirumah ?. Bagi kamu yang introvert akut pasti udah jelas jawabannya. Kadang soerang introvert tidak terlalu suka dengan perjalanan. Ingat, perjalanan lho, bukan tujuan perjalanan. Pernah ga sih ngebayangin betapa beratnya nahan beol pas perjalanan naik bus padahal masih 5 jam perjalanan, ga bisa tidur di pesawat, penuh sesak naih perahu, dll. Penulis sendiri ngerasa mual bayangin perjalanan yang penuh penderitaan. Pernah satu ketika liburan di pulau seribu dan dalam perjalanan harus naik kapal kecil bejubel. Baru 15 menit perjalanan kerasa kebelet pipis, mana perjalanan masih 1 jam. Alhasil harus berguling - guuling menahan penderitaan. Atau bisa juga para introvert khawatir harus berinteraksi dengan tour guide, manusia - manusia baru yang tidak dikenal sama - sekali.

Namun terkadang perjuangan perjalanan bisa terbalas dengan indahnya suasana liburan, angin pinggir pantai sepoi - sepoi, udara pegunungan yang dingin.. Bagi saya perjalanan merupakan momok yang menakutkan, padahal saya sendiri sering melakukan perjalanan Jogja - Jakarta hampir 1 bulan sekali, kadang malah lebih dari sekali. terkadang juga ke kota besar lainnya karena tugas pekerjaan. berikut jenis rincian penderitaan para introvert ketika sedang travel, dikutip dari sini.

1. Berbasa-Basi Dengan Seorang Tak Dikenal Diperjalanan Adalah Siksaan

Saya tak bermaksud sombong sehingga tidak mau mengobrol dengan orang baru, hanya saja saya merasa mengobrol dengan seseorang yang baru dikenal cukup merepotkan.

Saya tidak terbiasa menjawab berbagai pertanyaan basa-basi seperti “mau kemana?” “tinggal dimana?” atau bahkan “apa hewan peliharaanmu?”.

Saya merasa bukan suatu kewajiban menjelaskan hal-hal seperti itu pada orang yang bahkan semenit sebelumnya tak kita kenal.

Bagi kalian mungkin biasa saja berbasa-basi dengan orang disebelah kita sekedar untuk mengisi waktu luang saat perjalanan di bus atau kereta, saya lebih memilih diam karena menurutku hening adalah cara terbaik mengisi waktu luang.

2. Susahnya Sekedar Bertanya Arah

Saat bepergian ke Karimunjawa, saya pernah terpisah dari rombongan saat akan menyeberang ke pulau Menjangan Besar. Di jalan saya bertemu dengan beberapa orang dari rombongan berbeda yang nampaknya akan menuju pulau Menjangan Besar juga.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti rombongan ini karena malas bertanya. Beruntungnya rombongan ini benar-benar menuju pulau Menjangan Besar. Begitulah, saya hanya bisa berasumsi, tanpa mau bertanya untuk memastikan, bahkan sekedar bertanya arah.

3. Susahnya Berkumpul Bersama Traveler Lain

Saat kita bepergian jauh, penginapan murah menjadi salah satu pilihan. Disana biasanya kita tidak hanya sendiri, ada juga beberapa traveler lain yang sedang beristirahat, apalagi jika hostel dekat tempat wisata yang cukup populer.

Suasana biasanya ramai akan para traveler yang berkumpul sambil minum kopi sambil saling berbagi cerita. Nampak sangat menyenangkan.

Saya sendiri merasa susah untuk bergabung. Berbicara banyak didepan orang banyak, itu siksaan. Saya cenderung lebih memilih tempat sepi sambil mendengarkan musik.

4. Berpikir 2 Kali Jika Harus Berurusan dengan Orang Lain Dalam Satu Rombongan Tur

Setelah selesai makan saya cukup sial mendapati kotak makan saya tidak terdapat tisu. Daripada bertanya dan meminta tisu pada teman satu rombongan tur saya lebih memilih mencari toko terdekat untuk membeli tisu dalam jumlah banyak untuk mengantisipasi ketika hal seperti ini kembali terjadi.

Mungkin terdengar berlebihan, namun begitulah pola pikir kami. Hindari berurusan dengan orang lain sebisa mungkin.

5. Benci Menjadi Pusat Perhatian

Bagi beberapa orang, menjadi ‘pusat perhatian’ mungkin menyenangkan, tetapi tidak bagiku. Saat malam di Karimunjawa,selesai acara tur dari Menjangan Besar, saya memainkan beberapa nada asal-asalan dengan harmonika. Memainkan harmonika adalah salah satu cara menikmati keheningan alam, bagi saya.

Salah satu teman rombongan mendengar dan menyeretku untuk memainkannya didepan seluruh anggota rombongan tur saat acara api unggun.

Bukan saya tak ingin menghibur dan bergembira dengan kalian, saya hanya tak nyaman duduk ditengah lingkaran sekumpulan orang yang belum terlalu kukenal.

6. Dikomentari Teman Seperjalanan

Setelah semua perjalanan menuju destinasi-destinasi yang direncanakan,beberapa orang menyadari bahwa saya sedikit berbeda. Pertanyaan dan komentar seperti “mengapa kamu tak ikut berkumpul?” “mengapa kamu selalu lebih banyak diam?” serta berbagai “mengapa” yang lain mulai muncul.

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang kutakutkan. Saya takut pandangan orang menjadi negatif karena saya lebih banyak diam.
    Apa salahnya menjadi seorang yang diam?

Saya hanya ingin menikmati alam ini. Saya sendiri bukan ingin menjauh, semua aktifitas-aktifitas berkumpul dan mengobrol terlalu melelahkan bagiku.

7. Orang Menjauh Karena Saya Terlalu Banyak Melamun

Tentu saja, saya paham itu konsekuensi menjadi seorang introvert. Seorang teman berkata, alis dan kening ini akan berkerut saat saya sedang melamun. Sangat terlihat. Itulah mungkin yang membuat orang-orang sekitar sadar bahwa saya tak ingin diganggu. Saya memang serba ingin sendiri, namun saya terlalu takut untuk melakukan traveling seorang diri.

Merepotkan bukan?

8. Penderitaan Besar Berada Di bus atau Kereta yang Penuh Sesak

Memang merepotkan menjadi seorang introvert. Saya sendiri menyadari hal itu. Saya sadar tak mungkin saya meminta bus atau kereta yang lengang saat ingin bepergian ke suatu tempat wisata, terkecuali saya seorang Bill Gates.

Kondisi penuh sesak dalam perjalanan membuat diriku gelisah dan tidak nyaman. Saya termasuk seorang yang jarang bepergian menggunakan kereta.

Saat akan bepergian ke Malang saya harus naik kereta terlebih dahulu menuju Surabaya. Sialnya, saat long weekend seperti itu, kereta penuh sesak. Sangat tak menyenangkan. Keringat menetes dari telapak tangan. Kepala terasa berat. Saya merasa ingin memencet tombol rem darurat.

Semua hal diatas mungkin terlihat sangat berlebihan bagi orang pada umumnya, namun begitulah yang terkadang kami para introvert, alami saat traveling.

Daftar penderitaan diatas ditulis oleh Shabara Wicaksono di alamat web yang sudah disebutkan sebelumnya. Lalu bagaimanakah cara traveling bagi introver untuk menghindari atau setidaknya mengurangi penderitaan diatas ? menurut saya, ini beberapa hal yang perlu dilakukan bagi traveler introvert.

1. Lakukan riset dan penelitian tentang tempat yang akan dituju

Pastikan tujuan traveling kita pantas diperjuangkan dengan segala perngobanan yang kita lakukan. cari informasi sedetail mungkin, mulai dari karakter lokal, kearifan lokal, sampai koordinat toilet. Paling tidak kita punya gambaran apa saja yang akan kita lakukan dalam kondisi rileks, atau dalam kondisi darurat dimana introvertisme akut kambuh.

2. Persiapkan segalanya sejak dini

Asal jangan menikah dini, coba siapkan apapun yang akan kita bawa dan akan kita gunakan. jangan sampai ditengah perjalanan kita baru ingat kelupaan bawa celana dalam, dijamin ga bakalan nyaman sampi berhari - hari. Menyalahkan diri sendiri, depresi, dan diare. Coba siapkan kebutuhan dan kumpulkan dalam satu lokasi dimana memang kita jadikan titik pusat perlengkapan travel.

3. Cari partner yang benar - benar cocok, atau kalau tidak ada, cukup pergi sendirian

Pacar, kalau punya. Kalau enggak ajak temen - temen deket yang memang ngerti keadaan kamu dan kamu bisa nyaman ngobrol dengan mereka. Paling asik kalau kita udah klop sama mereka mau ngomong apa aja juga ayok. Tapi kalau memang ga punya temen deket, coba jalan - jalan sendirian. Saya sendiri sering melakukan travel sendirian, sekedar main ke sawah sendirian mungkin. Namun harus ekstra hati - hati kalau perlu bawa perlengkapan self-defense.

4. Smartphone, playlist, headset

Hal yang paling penting untuk menghindari yang namanya small-talk. Karena dalam diri kita,  seorang introvert,  asik dengan dunia nya sendiri, smartphone adalah salah satu teman terbaik bagi. Disini mereka bisa kembali ke dunia yang tenang tanpa ada keraguan, dan disini kita bisa mencurahkan semua pengalaman dan cerita dari traveling nya via internet misalnya. Atau sekedar mendengarkan musik dan mengabaikan riuhnya dunia.

5. Akomodasi perjalanan private & ekslusif 

Mahal sedikit ga masalah, yang penting menikmati. Itu yang selama ini jadi prinsip saya dalam traveling. Bukannya sok kaya, tapi niatnya kan rileks, santai, bahagia dan gembira, bukan menderita. Ketenangan dan tersedianya toilet adalah hal yang sangat penting dan prioritas utama.

uruha Rei

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

No comments:

Post a Comment